CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Rabu, 06 Agustus 2008

Light Seekers (Story 1, Part 2)

Ok2, teman2 sekalian, lanjut ya part 2 nya.
Maap neh ngga ada gambar, ngga pinter gambar seh.
Mungkin gambar menyusul.
Enjoy n Comment ya......


Seseorang mengguncangku dengan keras.
“Reint, bangun kau bodoh!” teriak orang itu.
Aku melihat sekelilingku dan melihat seorang pemuda dan seorang wanita.
“Rupanya aku bermimpi lagi,” kataku sambil tersenyum kecil.
“Treant itu?” tanya si gadis. Aku hanya mengangguk.
“Sudahlah, jangan ungkit-ungkit saat itu lagi, Reint!” pinta si pemuda.
“Baiklah, Legra!” jawabku pada si pemuda yang bernama Legra itu. “Berapa lama aku tidur, Fleirye?” tanyaku.
Gadis itu menggeleng. “Cukup lama,” jawabnya pelan.
“Hal itu membawa kenangan buruk untuk kita semua ya?” tanya Legra sambil duduk di lantai. “Rasanya sudah lama sekali sejak peristiwa itu.”
Tiba-tiba Fleirye menunduk. “Maafkan aku,” bisiknya. “Andai aku lebih kuat saat itu…”
“Itu bukan salahmu!” jawab Legra pelan. Aku hanya mengangguk saja.
“Lebih baik kita berkeliling saja sekarang,” kataku. Kedua temanku itu mengangguk setuju. Lalu kami berjalan. Aku meraba lengan kiriku yang terdapat bekas cakaran Treant.
Sebenarnya saat itu setelah aku pingsan, orang-orang Light Seekers membawaku ke Downland dan mengobati serta menetralisir racun Treant. Mulanya aku agak marah karena mereka membawaku ke Downland ini, tetapi akhirnya aku pasrah saja.
Ternyata Downland ini tidaklah separah yang kubayangkan. Di bawah sini terdapat banyak toko dan rumah juga, layaknya di Teoland, tetapi sangat berbeda juga dari Teoland yang indah dan rapi. Di sini semuanya benar-benar seperti mati, terutama di malam hari. Jangankan pada malam hari, pada siang hari saja hanya sedikit cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela. Di Downland ini sepanjang hari hanya diterangi oleh lampu neon yang membuat Downland selalu tampak suram.
Bangunan di Downland ini juga tidaklah indah. Banyak yang terdiri hanya dari lempengan besi yang direkatkan secara asal saja, bahkan banyak pula yang ditambal dengan kardus. Benar-benar menyedihkan! Terkadang bau busuk juga memenuhi seluruh Downland, terutama berasal dari Darkland, tempat di bawah Downland yang merupakan sarang para monster. Kudengar di sana tidak ada cahaya, para monster hidup dalam kegelapan abadi.
Tentu saja aku sangat merindukan Teoland. Cahaya mataharinya yang hangat, udaranya yang harum, bangunan serta kotanya yang elok. Juga Reifa! Ah, lagi-lagi aku memikirkannya! Gerutuku.
Setelah ditolong orang dari Downland ini, aku bergabung dengan para Light Seekers. Dan kurasa mereka tidaklah seburuk pandanganku selama ini. Mereka hanya menjarah untuk kelangsungan hidup mereka. Aku pun mengetahui asal usul nama mereka, Light Seekers alias Pencari Cahaya adalah nama yang mereka buat untuk berjuang melihat cahaya matahari kembali karena sehari-hari mereka hidup dalam kesuraman dan kegelapan. Mungkin itu juga mengapa aku tertarik untuk bergabung dengan Light Seekers.
Kemudian kami berjalan melewati segerombolan anak-anak yang sedang seru bermain bola di tanah yang tandus dengan diterangi lampu neon. Beberapa orang menyapa kami. Kurasa orang-orang di sini ramah, bahkan lebih ramah daripada di Teoland. Itulah mengapa aku cukup menyukai orang-orang Downland dibandingkan dengan orang-orang Teoland yang individualis.
Alat komunikasi yang dipegang oleh Fleirye berbunyi. Tampak seseorang yang sudah agak tua dengan banyak uban di layar alat komunikasi itu.
“Ada serangan mendadak dari monster di koordinat 44,92. Kau, Reint, dan Legra segera menuju ke sana!”
Kami segera berlari ke koordinat tersebut dan menemukan monster Argol, sejenis monster laba-laba raksasa sedang menghancurkan banyak rumah. Aku menyiapkan pedang lamaku yang masih tetap tajam. Legra menyiapkan perisai dan pisaunya. Fleirye menyiapkan busurnya.
Legra memulai serangan pada induk Argol. Segera saja induk Argol dan beberapa anaknya mengerubungi Legra. Fleirye segera mengambil sebuah anak panah dan memasangnya pada busurnya. Setelah ditembakkan, anak panah itu tepat mengenai seekor anak Argol yang langsung mati di tempat.
Aku pun mulai menyerang juga. Pertama kami menyerang anak-anak Argol tersebut sementara Legra menahan si induk Argol. Aku dan Fleirye berhasil membunuhi semua anak Argol yang tersisa, sementara Legra masih menahan si induk.
“Kalau sudah selesai, cepat bantu aku!” teriak Legra yang mulai kesulitan menahan induk Argol tersebut. Fleirye segera memanahi induk Argol itu. Aku maju dan menebas salah satu kaki Argol tersebut sampai putus. Saat ia kehilangan keseimbangan, aku segera melancarkan empat pukulan beruntun secara cepat. Darah segar kehijauan dari Argol itu membanjiri tanah. Untuk penghabisan, aku melompat, bersalto di udara lalu menebas induk Argol itu sekuat tenaga sampai tubuhnya terbelah dua.
“Penghabisan yang bagus!” gerutu Legra yang kelelahan. Inilah tim kami, Legra selalu pasang badan untuk menahan serangan sementara aku dan Fleirye menghabisi lawan, kombinasi yang sempurna. Lalu kami pergi menghadap komandan kami.
“Penghabisan yang indah, Reint!” bisik Fleirye dengan menyentuh lenganku lembut, entah mengapa aku merasa aneh saat memandang Fleirye. Wajahnya yang cukup cantik dan rambut panjangnya yang hitam selalu mengingatkanku pada Reifa. Aku merasakan suatu sensasi yang aneh.
Kami berjalan menuju sebuah bangunan yang tidak kalah jeleknya dengan bangunan di Downland, hanya saja bangunan ini lebih besar. Inilah markas besar Light Seekers.
Komandan Light Seekers yang kami lihat di alat komunikasi bernama Mirvay, seorang pemanah dan penembak yang konon disebut legendaris. Ia memilih untuk memperjuangkan Downland daripada tetap di Teoland.
“Kerja yang bagus, tim 13!” puji Mirvay pada kami semua. “Hadiah akan kukirimkan nanti malam pada Fleirye.” Setelah itu kami langsung meninggalkan markas Light Seeker.
Tetapi tidak lama berselang alat komunikasi Fleirye berbunyi lagi. Tampaklah muka Mirvay yang tidak asing lagi. “Maaf, aku lupa mengatakan bahwa besok siang kalian terpaksa harus kutugaskan untuk pergi ke Laboratorium 312 untuk mencari suatu data penting yang hilang belum lama ini.”
“Bukankah tim 5 yang ditugaskan untuk itu, komandan Mirvay?” Legra memotong cepat.
Mirvay terdiam sesaat. “Ya, seharusnya begitu. Tetapi entah mengapa tidak ada seorang pun yang kembali dari Laboratorium 312 itu.” Saat itu juga perasaan tidak enak dan takut memenuhi kami. Tim 5 adalah tim yang baik dan hebat, kerjasama mereka tidak kalah hebat dari tim kami.
Fleirye mendekatiku, membiarkan Legra berjalan duluan di depan kami. “Perasaanku tidak enak, Reint!” bisiknya gemetar sambil memegang tanganku. Tangan mungilnya memang berkeringat.
“Aku pun begitu,” bisikku. Legra tampaknya melihat kami dengan sinis.
Karena letak asrama pria dan wanita pasukan Light Seeker berbeda, kami berpisah jalan dengan Fleirye. Ia melambai pada kami lalu masuk ke asrama. Aku dan Legra berjalan terus sampai ke asrama pria yang letaknya tidak jauh dari situ. Memang aku dan Legra sulit untuk mengobrol, tetapi sebenarnya ia teman yang baik dan dapat diandalkan.
Sebelum sampai di asrama pria, Legra menarikku ke suatu tempat yang sepi dan gelap. Lalu ia menjatuhkanku dengan kasar.
“Apa-apaan kau ini, Legra?” bentakku kesal sambil berdiri kembali.
Legra yang biasanya tampak selalu tenang membentakku lebih kencang lagi. “SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA, APA-APAAN KAU INI, REINT!” Lalu ia kembali tenang dengan nafas yang terengah-engah.
“Apanya?” tanyaku tidak mengerti.
Legra mendorong bahuku dengan kasar sampai aku terjatuh lagi. “Jangan pura-pura bodoh, Reint!” bentak Legra yang tampaknya sudah mendapat kontrol dirinya kembali.
Aku menggeleng. “Aku benar-benar tidak mengerti, Legra!” jawabku sambil berdiri lagi. Aku dapat melihat kemarahan yang amat sangat dalam mata Legra.
“Kau telah merebut sesuatu yang berharga dari padaku, Reint!” kata Legra dengan nada dinginnya.
Aku masih tidak mengerti, malah aku bertambah bingung. “Apakah ‘sesuatu’itu, Legra?”
Legra memunggungiku. Aku amat terkejut, Legra yang selalu tabah dan kuat, menangis?
“’Sesuatu’ itu adalah Fleirye,” jawab Legra. Aku terkejut sekali. “Ya, kau telah merebutnya daripadaku!” Legra menyiapkan pisaunya lalu segera menyerangku. Aku yang sangat kaget mengeluarkan pedangku dan menangkis semua serangannya. Setelah menyerang, Legra mundur beberapa langkah.”
“Kau orang dari Teoland mana tahu penderitaan kami! Setiap hari kami harus bertahan hidup dengan segala cara. Mengemis, mencuri, bahkan membunuh sudah pernah aku dan Fleirye lakukan dari kecil. Kami itu teman dari kecil. Kau tahu aku sangat menyukainya tetapi kau merebutnya!”
Lagi-lagi Legra menyerangku. Aku dapat menangkis serangannya, tetapi kali ini berbeda. Legra sungguh-sungguh ingin membunuhku? Tanyaku.
“Tetapi sekarang kau merebutnya!” ulang Legra sambil mundur. “Kau tahu, apa yang kami makan sehari-hari? Roti berjamur saja kami sudah bersyukur!” Lalu Legra menyerangku kembali. Kali ini aku hanya menghindarinya saja.
“Ya, Reint! Kami hidup dalam kegelapan setiap hari, setiap jam, setiap detik. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mengemis untuk sepotong roti saja. Itu yang aku dan Fleirye lakukan setiap hari, kau tahu?” Legra kembali menyerang. Serangannya kali ini tidak dapat kuhindari sepenuhnya. Lengan kananku tergores pisaunya. Legra tampak puas.
Legra membuang pisaunya, tampaknya ia ingin kami bertarung dengan tinju. Ia meninju telak pipiku sampai aku tersungkur di tanah yang dingin. Sekali lagi Legra tampak puas.
Aku bangkit lalu segera balas memukulnya. Ia pun jatuh tersungkur.
“Ya Legra, aku memang tidak tahu apapun tentang kau dan Fleirye!” bentakku emosi. “Terserah kau mau menganggapku apa, tetapi aku dan Fleirye hanya teman, kau tahu!”
Legra segera bangkit. “Kau bohong!” raungnya yang makin mirip dengan raungan Treant. “Aku tahu kau menyukainya dan dia menyukaimu, Reint! Dari cara kalian berbicara, memandang, bahkan bersikap!”
Kali ini Legra bangkit, tetapi ia tidak menyerangku lagi. Ia berbalik lalu berkata dengan dingin, “mulai saat ini kau bukan temanku lagi, Reint!”
Jujur saja, saat Legra mengatakan itu aku sangat terkejut. Selama kurang lebih sebulan aku berada di Downland ini, aku menganggap Legra teman terbaikku, tentu saja Fleirye juga. Dan kami juga bisa bekerja sama dengan baik.
“Baiklah kalau begitu, Legra!” jawabku dingin. “Aku pun tidak akan menganggap kau sebagai teman lagi!” Lalu kami berdua masuk ke asrama dan berpisah di depan kamar masing-masing.
“Legra sialan!” bisikku di kamarku sambil memegangi pipiku yang ia pukul. Cukup sakit juga. “Apa-apaan dia itu?”
Aku berbaring di tempat tidur. Mau tidak mau aku memikirkan arti kata-kata Legra. Aku mengingat-ingat saat aku bersama Fleirye. Aku tidak suka memikirkannya, tetapi tampaknya kata-kata Legra ada benarnya juga.
Apa-apaan aku ini? Aku kehilangan adikku dan Teoland, sekarang aku juga kehilangan teman terbaikku karena suatu masalah sepele? Renungku dalam keremangan kamar.
Perlahan-lahan aku merasakan bahwa aku pun menangis pelan. Semakin lama semakin menjadi-jadi. Aku kehilangan teman terbaikku! Renungku.

***

0 komentar: