CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 15 Agustus 2008

Light Seekers (Story 1, Part 3)

Ok, uda lama ngga lanjut krn banyak ulangan.
Lanjut ya
Enjoy the last part of story 1


Paginya, aku terlambat bangun. Aku segera bersiap-siap untuk misi ke Laboratorium 312. Fleirye dan Legra sudah menungguku.
“Terlambat, Reint!” kata Legra dengan nada sedingin es.
“Tidak apa-apa, Legra!” kata Fleirye menenangkan sahabatnya itu. “Sebaiknya kita segera pergi,” lanjut Fleirye sambil tersenyum manis ke arahku. Aku menanggapinya dengan senyum kecut. Bisa kurasakan Legra melihat kami dengan amat sinis.
Laboratorium 312 cukup jauh letaknya. Kami harus berjalan kira-kira satu jam sampai menemukan tempat itu. Laboratorium 312 adalah tempat yang menyeramkan. Dari luar seperti pabrik tua yang berhantu. Orang-orang menjauhi tempat ini karena dianggap angker. Dahulu beberapa ilmuwan gila melakukan eksperimen pada manusia hidup di tempat ini.
“Mari masuk!” kata Legra tanpa memandangku. Ia menyiapkan perisainya. Fleirye membawa senter dan busurnya sekaligus. Sementara aku di belakang mereka berdua. Mereka berdua tampak serasi. Tetapi lagi-lagi sensasi aneh memenuhi perutku, serasa isi perutku diguncangkan keras. Mungkin kata-kata Legra memang benar. Lalu aku mengumpat dalam hati.
“Kyaa!” teriak Fleirye. Kami (aku dan Legra) menengok bersamaan ke arah Fleirye, takut ada apa-apa dengannya.
“Hanya tikus. Maaf!” bisik Fleirye yang kelihatannya malu sendiri. Dan saat aku sadar aku menatap Legra, kami berdua membuang muka secara bersamaan.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Fleirye sambil memandangku dan Legra secara bersamaan. “Dari tadi pagi kurasa ada yang aneh pada kalian.”
“Tidak. Tidak ada apa-apa, Fleirye!” jawab Legra segera. Kami hanya agak lelah sejak pertempuran dengan Argol kemarin. Fleirye menatap kami dengan curiga.
Kami masuk ke sebuah ruangan gelap yang dipenuhi dengan kertas-kertas. Tempat itu gelap sekali. Fleirye mengarahkan senternya ke segala arah untuk memeriksa ruangan tersebut.
“Aman,” bisik gadis itu dengan lega.
“Jadi, Fleirye,” kataku. Sewaktu aku menyebutkan namanya, ada perasaan yang aneh terulang lagi padaku. “Data apa yang hendak kita cari?”
Fleirye merogoh PDA-nya lalu memeriksa sesuatu. “Data penting tentang ekperimen manusia yang digabungkan menjadi mahluk bernama Chimera,” jawab Fleirye sambil memasukkan kembali PDA-nya. “Menurut sumber, data penting itu ada di ruangan lantai dua, ruangan lab 22.”
“Mari kita pergi ke sana,” kata Legra segera. Kami berdua mengikutinya.
Kami berjalan ke lantai dua dengan perasaan yang aneh, waswas juga. Tetesan air, suara tangga besi yang berdecit dan juga kelelawar di atap membuat kami semakin takut berjalan di tempat ini. Dan juga kegelapan ini membuat kami tidak nyaman.
Di depan kami, jalan terbagi menjadi dua. Satu ke kiri dan satu ke kanan.
“Ke arah mana lab 22, Fleirye?” tanyaku. Lagi-lagi Fleirye memeriksa PDA-nya. “Entahlah,” jawabnya. “Tidak ada keterangan seperti itu di sini.”
Sebelum aku hendak menjawab, Legra mendahuluiku.
“Aku dan Fleirye akan memeriksa arah kanan, Reint coba kau yang memeriksa arah kiri ya!” lalu Legra menarik tangan Fleirye dengan lembut, meninggalkanku yang tidak sempat menyetujui usul itu.
“Dasar brengsek! Buaya darat!” umpatku kesal. Aku menyiapkan pedang dan senterku lalu berjalan ke kiri.
Di sini cukup menyeramkan dengan sarang laba-laba dimana-mana. Tiba-tiba aku merasakan di sekitarku banyak mahluk lain. Aku mengarahkan senterku, mencoba menyorot salah satu dari mereka dengan cahaya.
Dapat kulihat seekor mahluk pendek yang bungkuk berdiri di depanku, terkena cahayaku. Ia tampak tidak familiar dengan cahaya sebelum ia kabur untuk menghindari cahaya senterku. Tubuhnya mungil dengan tangan dan kaki hanya tulang saja serta badan yang hanya tinggal rusuk.
“Zombie!”bisikku. “Mengapa ada mahluk seperti itu di sini?”
Aku menyiapkan pedangku. Saat ada yang mencoba menyerangku, aku menyerangnya lebih dahulu. Mataku memang sudah terbiasa dalam kegelapan, tetapi zombie-zombie ini lebih terbiasa dariku.
Zombie-zombie itu tidaklah kuat, mereka hanya berani selagi ada teman mereka, dengan kata lain, bertarung secara keroyokan. Beberapa zombie menyerangku, tetapi aku berhasil menebas mereka sebelum mereka menyentuhku.
Aku menuangkan minyak ke mata pedangku lalu menyulut api. Aku tahu zombie tidak bisa mati kecuali bila dibakar. Aku menghunuskan pedang apiku ke salah seekor zombie. Lalu ia menjerit keras karena kesakitan.
Aku hanya berhasil membunuh beberapa ekor zombie lagi sebelum sisanya kabur ke lorong yang kecil dan gelap. Api menyala dari tubuh zombie-zombie itu. Jalan ini buntu, tidak ada ruangan lagi. Jadi lab 22 pastilah ada di sebelah kanan.
Aku berbalik menuju ke tempat kami berpisah. Tiba-tiba kudengar jeritan yang tidak asing lagi bagiku. Fleirye!
Aku mulai berlari sekuat tenaga menuju ke tempat mereka. Sampai ke tempat mereka aku pun tertegun. Sesosok mahluk tinggi berdiri di depan kami. Ia membawa pedang yang sangat besar lengkap dengan baju zirah yang kokoh. Sayap setannya yang besar mengembang dari punggungnya. Seluruh tubuhnya diselubungi api biru. Mahluk itu adalah Lucifer, utusan dari neraka.
Jelas saja Legra tampak tidak berdaya, bahkan komandan Mirvay dan Gunther pasti sangat kesulitan melawan Lucifer. Mata Lucifer berkilat saat ia melihat ada seorang lagi yang akan jadi mangsanya.
“Wahai manusia-manusia bodoh, kalau kalian tidak datang ke sini, pastilah kalian tidak akan mati!” gertak Lucifer sambil melemparkan Legra ke belakang. Aku dan Fleirye menghampiri Legra dengan putus asa.
“Huh, ternyata kau sudah berpindah tempat dari Darkland ya, Lucifer?” cemoohku.
“Kurasa di sini lebih menyenangkan,” jawab Lucifer dingin. “Selalu ada mangsa yang dapat kusantap.” Ia memamerkan gigi-giginya yang runcing.
Aku gemetar, lebih dari sebelumnya. Lucifer, aku sangat ingat dia karena saat kecil aku sering membaca kalau ia adalah monster dengan kesulitan kelas S. Treant saja hanya kelas B. Aku menyadari kalau aku tidak akan mampu melawannya. Tetapi aku harus melindungi temanku walau nyawa adalah taruhannya.
Aku maju menerjang Lucifer. Pedangku kupegang dengan mantap. Lucifer dengan enteng menyabetkan pedang besarnya ke arahku. Hampir saja aku tidak dapat mengelak. Pedang Lucifer tertancap kira-kira sepuluh senti dari kakiku.
Saat itu juga kucoba untuk menebas kaki Lucifer sekuat tenaga, tetapi percuma. Baju zirahnya yang tebal melindungi kakinya dengan baik. Pedangku bergetar hebat, untung belum patah.
“Dasar manusia bodoh, percuma saja!” kata Lucifer sambil tersenyum. “Kau dan temanmu sama-sama bodoh!”
“Diam!” teriakku geram. “Temanku itu tidak bodoh. Ia mencoba melindungi apa yang dicintainya dengan sepenuh kekuatannya! Monster sepertimu mana mengerti kami manusia!”
Legra tertegun mendengar kata-kataku.
“Reint, kau masih menganggapku teman?” bisiknya. Fleirye tampak tidak mengerti.
“Tentu saja, dasar bodoh!” jawabku sedikit kesal, tetapi sebenarnya aku senang juga.
Dalam kesempatan itu aku menebas kaki Lucifer di tempat yang tidak dilindungi baju zirahnya. Tetapi kulitnya sangat tebal dan keras. Saat darah segar Lucifer mengalir ke pedangku, mata pedangku mulai meleleh.
Lucifer tertawa sinis. “Darahku bahkan dapat melelehkan intan, bodoh!”
Sial! Gumamku. Ia terlalu kuat untukku.
“Matilah kau bersama teman-temanmu!” Teriak Lucifer dengan senang. Ia menebaskan pedangnya ke arahku. Aku tidak sempat menghindar. Aku memejamkan mataku, aku pasrah.
Apakah aku sudah mati? Pikirku. Aku akhirnya membuka mataku. Aku melihat Legra melindungiku dengan gagah. Perisainya sudah terbelah dua, tetapi ia masih tetap bertahan. Malah, ia sudah menusuk Lucifer dengan pisaunya yang sekarang meleleh dalam tubuh Lucifer.
Lucifer menjerit keras, tampaknya ia cukup kesakitan juga saat ditusuk.
“Aku sudah memanaskan pisauku untuk menusukmu, monster jelek!” sindir Legra. Dipanaskan? Ya pantas saja Lucifer sampai kesakitan seperti itu.
Walaupun ditusuk seperti itu, Lucifer masih dapat melemparkan aku dan Legra cukup jauh. Fleire menghampiri kami dengan khawatir.
“Reint,” bisik Legra. “Aku akan mengalihkan pandangannya, saat itu, kau dan Fleirye dapat kabur dari tempat ini. Laporlah pada Mirvay bahwa ada Lucifer di sini. Minta ia bawa sepasukan Light Seekers. Aku akan menahannya sebisa mungkin.”
“Tidak!” jerit Fleirye. “Tidak boleh seperti itu! Kita harus bertahan hidup bersama, kita bertiga.”
Legra tertawa pelan. “Manusia bodoh dan buta sepertiku ini tidak pantas menerima perkataan itu, Fleirye!”
Lalu Legra menatap ke arahku. “Reint, aku minta maaf telah marah padamu. Kau memang teman terbaikku. Permintaan terakhirku adalah tolong juga Fleirye, demi aku juga.”
Fleirye menangis, aku pun juga menangis pelan mendengar perkataan Legra. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Legra!” jawabku mantap.
“Jangan bodoh, Reint!” kata Legra membantah. “Kau pasti tahu bahwa kita tidak mampu menghadapi Lucifer sendirian. Maka larilah!”
Legra berdiri kembali dengan perisainya yang tinggal setengah, ia berdiri dengan gagah di depan Lucifer.
“Kau mau mati ya?” geram Lucifer sebal. Legra hanya diam saja.
Lucifer menebaskan pedangnya ke arah Legra. Dengan sigap Legra mengangkat perisainya untuk menangkis serangan Lucifer. Tetapi perisai Legra dapat dihancurkannya dengan mudah, pedang raksasanya menembus tubuh Legra.
“TIDAK!” jerit Fleirye. Melihat itu, aku pun tidak dapat tinggal diam. Aku menyulut api pada mata pedangku lalu menusuk Lucifer dengan pedangku. Lucifer menjerit keras sekali. Berkali-kali Fleirye menembakkkan panah api ke bagian tubuh Lucifer yang tidak dilindungi. Lucifer pun jatuh terduduk.
“Lari, bodoh!” bisik Legra sebelum ia benar-benar meninggal.
Sebelum Lucifer berdiri lagi, tiba-tiba sebuah ledakan tepat mengenai Lucifer. Ledakan itu amatlah dashyat sehingga membuat baju zirah Lucifer retak. Aku menengok ke belakang, dan kulihat Mirvay dan segerombolan Light Seekers yang bersenjata lengkap. Mirvay yang membawa senjata semacam rocket launcher segera menembak Lucifer sekali lagi.
Kali ini baju zirah Lucifer benar-benar hancur berserakan. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kucabut pedangku dari kaki Lucifer lalu menebaskannya berulang-ulang ke seluruh tubuhnya. Setelah kurasa cukup, aku menusuk jantung Lucifer.
Utusan dari neraka itu menjerit kesakitan yang amat sangat. Pedangku pun perlahan-lahan meleleh tidak berbentuk karena terkena darah Lucifer.
“Kembalilah ke neraka, Lucifer!” bisikku. Setelah itu Lucifer jatuh dan benar-benar mati. Tubuhnya segera terbakar dengan api biru.
Fleirye memandang Mirvay dan para Light Seekers dengan heran.
“Aku mengikuti kalian,” jelas Mirvay sebelum Fleirye sempat bertanya.
“Mengapa kau tidak menolong kami, komandan” tanya Fleirye sambil menangis.
Mirvay tampak tidak dapat berkata-kata. Sepertinya ia juga takut pada Lucifer.
Para Light Seekers membopong mayat Legra keluar dari Laboratorium 312. Data-data penting sudah mereka dapatkan, tetapi aku kehilangan satu teman terbaikku. Aku dan Fleirye berjalan di belakang para Light Seekers. Kesedihan masih menyelubungi kami, kesedihan yang akan kami rasakan untuk selama-lamanya.

***

“Fleirye!” panggilku setelah pemakaman Legra selesai.
Gadis itu menengok ke arahku sambil tersenyum kecil. Ia dan aku mengenakan pakaian hitam untuk pemakaman Legra.
Aku memandangnya untuk beberapa lama. Matanya yang kebiruan tampak memancarkan cahaya kesedihan yang dalam. Aku memeluk dan membelai rambutnya.
Lagi-lagi ia menangis tersedu-sedu. Tentu saja, kehilangan Legra adalah suatu pukulan berat baginya. Legra adalah temannya sejak kecil.
Aku mencoba untuk menghiburnya walaupun aku sendiri masih amat sedih, tetapi ia menghentikanku sebelum aku bicara sepatah kata pun. Ia meletakkan jarinya di bibirku untuk mencegahku bicara apapun.
Saat itu juga bibir kami berdua bersentuhan. Entah rasanya tidak ingin kulepas. Kami berciuman untuk beberapa saat sebelum ia memandangku lagi.
“Setelah ini jadi kita berdua akan pergi ke Teoland untuk mencari adikmu?” tanya Fleirye sambil duduk di dekat makam Legra. Aku mengangguk pelan.
“Ya, suatu saat pasti akan kutemukan Reifa kembali,” jawabku mantap. Kami berdua menaruh bunga di makam Legra, lalu kami pergi meninggalkan Legra yang mungkin sedang tersenyum di Taman Eden yang sebenarnya.
“Kita akan menemukan cahaya bersama. Pasti!”
Aku berlutut di samping makam Legra. Terima kasih, teman terbaikku!

================== Kisah Para Pencari Cahaya Tamat====================


Orang yang tidak mematuhi peraturan
sama saja dengan sampah
Tetapi orang yang tidak melindungi temannya sendiri
lebih rendah dari sampah


Yah, akhirnya selesai juga, terima kasih yg sudah membaca.

0 komentar: