CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 15 Agustus 2008

Light Seekers (Story 1, Part 3)

Ok, uda lama ngga lanjut krn banyak ulangan.
Lanjut ya
Enjoy the last part of story 1


Paginya, aku terlambat bangun. Aku segera bersiap-siap untuk misi ke Laboratorium 312. Fleirye dan Legra sudah menungguku.
“Terlambat, Reint!” kata Legra dengan nada sedingin es.
“Tidak apa-apa, Legra!” kata Fleirye menenangkan sahabatnya itu. “Sebaiknya kita segera pergi,” lanjut Fleirye sambil tersenyum manis ke arahku. Aku menanggapinya dengan senyum kecut. Bisa kurasakan Legra melihat kami dengan amat sinis.
Laboratorium 312 cukup jauh letaknya. Kami harus berjalan kira-kira satu jam sampai menemukan tempat itu. Laboratorium 312 adalah tempat yang menyeramkan. Dari luar seperti pabrik tua yang berhantu. Orang-orang menjauhi tempat ini karena dianggap angker. Dahulu beberapa ilmuwan gila melakukan eksperimen pada manusia hidup di tempat ini.
“Mari masuk!” kata Legra tanpa memandangku. Ia menyiapkan perisainya. Fleirye membawa senter dan busurnya sekaligus. Sementara aku di belakang mereka berdua. Mereka berdua tampak serasi. Tetapi lagi-lagi sensasi aneh memenuhi perutku, serasa isi perutku diguncangkan keras. Mungkin kata-kata Legra memang benar. Lalu aku mengumpat dalam hati.
“Kyaa!” teriak Fleirye. Kami (aku dan Legra) menengok bersamaan ke arah Fleirye, takut ada apa-apa dengannya.
“Hanya tikus. Maaf!” bisik Fleirye yang kelihatannya malu sendiri. Dan saat aku sadar aku menatap Legra, kami berdua membuang muka secara bersamaan.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Fleirye sambil memandangku dan Legra secara bersamaan. “Dari tadi pagi kurasa ada yang aneh pada kalian.”
“Tidak. Tidak ada apa-apa, Fleirye!” jawab Legra segera. Kami hanya agak lelah sejak pertempuran dengan Argol kemarin. Fleirye menatap kami dengan curiga.
Kami masuk ke sebuah ruangan gelap yang dipenuhi dengan kertas-kertas. Tempat itu gelap sekali. Fleirye mengarahkan senternya ke segala arah untuk memeriksa ruangan tersebut.
“Aman,” bisik gadis itu dengan lega.
“Jadi, Fleirye,” kataku. Sewaktu aku menyebutkan namanya, ada perasaan yang aneh terulang lagi padaku. “Data apa yang hendak kita cari?”
Fleirye merogoh PDA-nya lalu memeriksa sesuatu. “Data penting tentang ekperimen manusia yang digabungkan menjadi mahluk bernama Chimera,” jawab Fleirye sambil memasukkan kembali PDA-nya. “Menurut sumber, data penting itu ada di ruangan lantai dua, ruangan lab 22.”
“Mari kita pergi ke sana,” kata Legra segera. Kami berdua mengikutinya.
Kami berjalan ke lantai dua dengan perasaan yang aneh, waswas juga. Tetesan air, suara tangga besi yang berdecit dan juga kelelawar di atap membuat kami semakin takut berjalan di tempat ini. Dan juga kegelapan ini membuat kami tidak nyaman.
Di depan kami, jalan terbagi menjadi dua. Satu ke kiri dan satu ke kanan.
“Ke arah mana lab 22, Fleirye?” tanyaku. Lagi-lagi Fleirye memeriksa PDA-nya. “Entahlah,” jawabnya. “Tidak ada keterangan seperti itu di sini.”
Sebelum aku hendak menjawab, Legra mendahuluiku.
“Aku dan Fleirye akan memeriksa arah kanan, Reint coba kau yang memeriksa arah kiri ya!” lalu Legra menarik tangan Fleirye dengan lembut, meninggalkanku yang tidak sempat menyetujui usul itu.
“Dasar brengsek! Buaya darat!” umpatku kesal. Aku menyiapkan pedang dan senterku lalu berjalan ke kiri.
Di sini cukup menyeramkan dengan sarang laba-laba dimana-mana. Tiba-tiba aku merasakan di sekitarku banyak mahluk lain. Aku mengarahkan senterku, mencoba menyorot salah satu dari mereka dengan cahaya.
Dapat kulihat seekor mahluk pendek yang bungkuk berdiri di depanku, terkena cahayaku. Ia tampak tidak familiar dengan cahaya sebelum ia kabur untuk menghindari cahaya senterku. Tubuhnya mungil dengan tangan dan kaki hanya tulang saja serta badan yang hanya tinggal rusuk.
“Zombie!”bisikku. “Mengapa ada mahluk seperti itu di sini?”
Aku menyiapkan pedangku. Saat ada yang mencoba menyerangku, aku menyerangnya lebih dahulu. Mataku memang sudah terbiasa dalam kegelapan, tetapi zombie-zombie ini lebih terbiasa dariku.
Zombie-zombie itu tidaklah kuat, mereka hanya berani selagi ada teman mereka, dengan kata lain, bertarung secara keroyokan. Beberapa zombie menyerangku, tetapi aku berhasil menebas mereka sebelum mereka menyentuhku.
Aku menuangkan minyak ke mata pedangku lalu menyulut api. Aku tahu zombie tidak bisa mati kecuali bila dibakar. Aku menghunuskan pedang apiku ke salah seekor zombie. Lalu ia menjerit keras karena kesakitan.
Aku hanya berhasil membunuh beberapa ekor zombie lagi sebelum sisanya kabur ke lorong yang kecil dan gelap. Api menyala dari tubuh zombie-zombie itu. Jalan ini buntu, tidak ada ruangan lagi. Jadi lab 22 pastilah ada di sebelah kanan.
Aku berbalik menuju ke tempat kami berpisah. Tiba-tiba kudengar jeritan yang tidak asing lagi bagiku. Fleirye!
Aku mulai berlari sekuat tenaga menuju ke tempat mereka. Sampai ke tempat mereka aku pun tertegun. Sesosok mahluk tinggi berdiri di depan kami. Ia membawa pedang yang sangat besar lengkap dengan baju zirah yang kokoh. Sayap setannya yang besar mengembang dari punggungnya. Seluruh tubuhnya diselubungi api biru. Mahluk itu adalah Lucifer, utusan dari neraka.
Jelas saja Legra tampak tidak berdaya, bahkan komandan Mirvay dan Gunther pasti sangat kesulitan melawan Lucifer. Mata Lucifer berkilat saat ia melihat ada seorang lagi yang akan jadi mangsanya.
“Wahai manusia-manusia bodoh, kalau kalian tidak datang ke sini, pastilah kalian tidak akan mati!” gertak Lucifer sambil melemparkan Legra ke belakang. Aku dan Fleirye menghampiri Legra dengan putus asa.
“Huh, ternyata kau sudah berpindah tempat dari Darkland ya, Lucifer?” cemoohku.
“Kurasa di sini lebih menyenangkan,” jawab Lucifer dingin. “Selalu ada mangsa yang dapat kusantap.” Ia memamerkan gigi-giginya yang runcing.
Aku gemetar, lebih dari sebelumnya. Lucifer, aku sangat ingat dia karena saat kecil aku sering membaca kalau ia adalah monster dengan kesulitan kelas S. Treant saja hanya kelas B. Aku menyadari kalau aku tidak akan mampu melawannya. Tetapi aku harus melindungi temanku walau nyawa adalah taruhannya.
Aku maju menerjang Lucifer. Pedangku kupegang dengan mantap. Lucifer dengan enteng menyabetkan pedang besarnya ke arahku. Hampir saja aku tidak dapat mengelak. Pedang Lucifer tertancap kira-kira sepuluh senti dari kakiku.
Saat itu juga kucoba untuk menebas kaki Lucifer sekuat tenaga, tetapi percuma. Baju zirahnya yang tebal melindungi kakinya dengan baik. Pedangku bergetar hebat, untung belum patah.
“Dasar manusia bodoh, percuma saja!” kata Lucifer sambil tersenyum. “Kau dan temanmu sama-sama bodoh!”
“Diam!” teriakku geram. “Temanku itu tidak bodoh. Ia mencoba melindungi apa yang dicintainya dengan sepenuh kekuatannya! Monster sepertimu mana mengerti kami manusia!”
Legra tertegun mendengar kata-kataku.
“Reint, kau masih menganggapku teman?” bisiknya. Fleirye tampak tidak mengerti.
“Tentu saja, dasar bodoh!” jawabku sedikit kesal, tetapi sebenarnya aku senang juga.
Dalam kesempatan itu aku menebas kaki Lucifer di tempat yang tidak dilindungi baju zirahnya. Tetapi kulitnya sangat tebal dan keras. Saat darah segar Lucifer mengalir ke pedangku, mata pedangku mulai meleleh.
Lucifer tertawa sinis. “Darahku bahkan dapat melelehkan intan, bodoh!”
Sial! Gumamku. Ia terlalu kuat untukku.
“Matilah kau bersama teman-temanmu!” Teriak Lucifer dengan senang. Ia menebaskan pedangnya ke arahku. Aku tidak sempat menghindar. Aku memejamkan mataku, aku pasrah.
Apakah aku sudah mati? Pikirku. Aku akhirnya membuka mataku. Aku melihat Legra melindungiku dengan gagah. Perisainya sudah terbelah dua, tetapi ia masih tetap bertahan. Malah, ia sudah menusuk Lucifer dengan pisaunya yang sekarang meleleh dalam tubuh Lucifer.
Lucifer menjerit keras, tampaknya ia cukup kesakitan juga saat ditusuk.
“Aku sudah memanaskan pisauku untuk menusukmu, monster jelek!” sindir Legra. Dipanaskan? Ya pantas saja Lucifer sampai kesakitan seperti itu.
Walaupun ditusuk seperti itu, Lucifer masih dapat melemparkan aku dan Legra cukup jauh. Fleire menghampiri kami dengan khawatir.
“Reint,” bisik Legra. “Aku akan mengalihkan pandangannya, saat itu, kau dan Fleirye dapat kabur dari tempat ini. Laporlah pada Mirvay bahwa ada Lucifer di sini. Minta ia bawa sepasukan Light Seekers. Aku akan menahannya sebisa mungkin.”
“Tidak!” jerit Fleirye. “Tidak boleh seperti itu! Kita harus bertahan hidup bersama, kita bertiga.”
Legra tertawa pelan. “Manusia bodoh dan buta sepertiku ini tidak pantas menerima perkataan itu, Fleirye!”
Lalu Legra menatap ke arahku. “Reint, aku minta maaf telah marah padamu. Kau memang teman terbaikku. Permintaan terakhirku adalah tolong juga Fleirye, demi aku juga.”
Fleirye menangis, aku pun juga menangis pelan mendengar perkataan Legra. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Legra!” jawabku mantap.
“Jangan bodoh, Reint!” kata Legra membantah. “Kau pasti tahu bahwa kita tidak mampu menghadapi Lucifer sendirian. Maka larilah!”
Legra berdiri kembali dengan perisainya yang tinggal setengah, ia berdiri dengan gagah di depan Lucifer.
“Kau mau mati ya?” geram Lucifer sebal. Legra hanya diam saja.
Lucifer menebaskan pedangnya ke arah Legra. Dengan sigap Legra mengangkat perisainya untuk menangkis serangan Lucifer. Tetapi perisai Legra dapat dihancurkannya dengan mudah, pedang raksasanya menembus tubuh Legra.
“TIDAK!” jerit Fleirye. Melihat itu, aku pun tidak dapat tinggal diam. Aku menyulut api pada mata pedangku lalu menusuk Lucifer dengan pedangku. Lucifer menjerit keras sekali. Berkali-kali Fleirye menembakkkan panah api ke bagian tubuh Lucifer yang tidak dilindungi. Lucifer pun jatuh terduduk.
“Lari, bodoh!” bisik Legra sebelum ia benar-benar meninggal.
Sebelum Lucifer berdiri lagi, tiba-tiba sebuah ledakan tepat mengenai Lucifer. Ledakan itu amatlah dashyat sehingga membuat baju zirah Lucifer retak. Aku menengok ke belakang, dan kulihat Mirvay dan segerombolan Light Seekers yang bersenjata lengkap. Mirvay yang membawa senjata semacam rocket launcher segera menembak Lucifer sekali lagi.
Kali ini baju zirah Lucifer benar-benar hancur berserakan. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kucabut pedangku dari kaki Lucifer lalu menebaskannya berulang-ulang ke seluruh tubuhnya. Setelah kurasa cukup, aku menusuk jantung Lucifer.
Utusan dari neraka itu menjerit kesakitan yang amat sangat. Pedangku pun perlahan-lahan meleleh tidak berbentuk karena terkena darah Lucifer.
“Kembalilah ke neraka, Lucifer!” bisikku. Setelah itu Lucifer jatuh dan benar-benar mati. Tubuhnya segera terbakar dengan api biru.
Fleirye memandang Mirvay dan para Light Seekers dengan heran.
“Aku mengikuti kalian,” jelas Mirvay sebelum Fleirye sempat bertanya.
“Mengapa kau tidak menolong kami, komandan” tanya Fleirye sambil menangis.
Mirvay tampak tidak dapat berkata-kata. Sepertinya ia juga takut pada Lucifer.
Para Light Seekers membopong mayat Legra keluar dari Laboratorium 312. Data-data penting sudah mereka dapatkan, tetapi aku kehilangan satu teman terbaikku. Aku dan Fleirye berjalan di belakang para Light Seekers. Kesedihan masih menyelubungi kami, kesedihan yang akan kami rasakan untuk selama-lamanya.

***

“Fleirye!” panggilku setelah pemakaman Legra selesai.
Gadis itu menengok ke arahku sambil tersenyum kecil. Ia dan aku mengenakan pakaian hitam untuk pemakaman Legra.
Aku memandangnya untuk beberapa lama. Matanya yang kebiruan tampak memancarkan cahaya kesedihan yang dalam. Aku memeluk dan membelai rambutnya.
Lagi-lagi ia menangis tersedu-sedu. Tentu saja, kehilangan Legra adalah suatu pukulan berat baginya. Legra adalah temannya sejak kecil.
Aku mencoba untuk menghiburnya walaupun aku sendiri masih amat sedih, tetapi ia menghentikanku sebelum aku bicara sepatah kata pun. Ia meletakkan jarinya di bibirku untuk mencegahku bicara apapun.
Saat itu juga bibir kami berdua bersentuhan. Entah rasanya tidak ingin kulepas. Kami berciuman untuk beberapa saat sebelum ia memandangku lagi.
“Setelah ini jadi kita berdua akan pergi ke Teoland untuk mencari adikmu?” tanya Fleirye sambil duduk di dekat makam Legra. Aku mengangguk pelan.
“Ya, suatu saat pasti akan kutemukan Reifa kembali,” jawabku mantap. Kami berdua menaruh bunga di makam Legra, lalu kami pergi meninggalkan Legra yang mungkin sedang tersenyum di Taman Eden yang sebenarnya.
“Kita akan menemukan cahaya bersama. Pasti!”
Aku berlutut di samping makam Legra. Terima kasih, teman terbaikku!

================== Kisah Para Pencari Cahaya Tamat====================


Orang yang tidak mematuhi peraturan
sama saja dengan sampah
Tetapi orang yang tidak melindungi temannya sendiri
lebih rendah dari sampah


Yah, akhirnya selesai juga, terima kasih yg sudah membaca.

Rabu, 06 Agustus 2008

Light Seekers (Story 1, Part 2)

Ok2, teman2 sekalian, lanjut ya part 2 nya.
Maap neh ngga ada gambar, ngga pinter gambar seh.
Mungkin gambar menyusul.
Enjoy n Comment ya......


Seseorang mengguncangku dengan keras.
“Reint, bangun kau bodoh!” teriak orang itu.
Aku melihat sekelilingku dan melihat seorang pemuda dan seorang wanita.
“Rupanya aku bermimpi lagi,” kataku sambil tersenyum kecil.
“Treant itu?” tanya si gadis. Aku hanya mengangguk.
“Sudahlah, jangan ungkit-ungkit saat itu lagi, Reint!” pinta si pemuda.
“Baiklah, Legra!” jawabku pada si pemuda yang bernama Legra itu. “Berapa lama aku tidur, Fleirye?” tanyaku.
Gadis itu menggeleng. “Cukup lama,” jawabnya pelan.
“Hal itu membawa kenangan buruk untuk kita semua ya?” tanya Legra sambil duduk di lantai. “Rasanya sudah lama sekali sejak peristiwa itu.”
Tiba-tiba Fleirye menunduk. “Maafkan aku,” bisiknya. “Andai aku lebih kuat saat itu…”
“Itu bukan salahmu!” jawab Legra pelan. Aku hanya mengangguk saja.
“Lebih baik kita berkeliling saja sekarang,” kataku. Kedua temanku itu mengangguk setuju. Lalu kami berjalan. Aku meraba lengan kiriku yang terdapat bekas cakaran Treant.
Sebenarnya saat itu setelah aku pingsan, orang-orang Light Seekers membawaku ke Downland dan mengobati serta menetralisir racun Treant. Mulanya aku agak marah karena mereka membawaku ke Downland ini, tetapi akhirnya aku pasrah saja.
Ternyata Downland ini tidaklah separah yang kubayangkan. Di bawah sini terdapat banyak toko dan rumah juga, layaknya di Teoland, tetapi sangat berbeda juga dari Teoland yang indah dan rapi. Di sini semuanya benar-benar seperti mati, terutama di malam hari. Jangankan pada malam hari, pada siang hari saja hanya sedikit cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela. Di Downland ini sepanjang hari hanya diterangi oleh lampu neon yang membuat Downland selalu tampak suram.
Bangunan di Downland ini juga tidaklah indah. Banyak yang terdiri hanya dari lempengan besi yang direkatkan secara asal saja, bahkan banyak pula yang ditambal dengan kardus. Benar-benar menyedihkan! Terkadang bau busuk juga memenuhi seluruh Downland, terutama berasal dari Darkland, tempat di bawah Downland yang merupakan sarang para monster. Kudengar di sana tidak ada cahaya, para monster hidup dalam kegelapan abadi.
Tentu saja aku sangat merindukan Teoland. Cahaya mataharinya yang hangat, udaranya yang harum, bangunan serta kotanya yang elok. Juga Reifa! Ah, lagi-lagi aku memikirkannya! Gerutuku.
Setelah ditolong orang dari Downland ini, aku bergabung dengan para Light Seekers. Dan kurasa mereka tidaklah seburuk pandanganku selama ini. Mereka hanya menjarah untuk kelangsungan hidup mereka. Aku pun mengetahui asal usul nama mereka, Light Seekers alias Pencari Cahaya adalah nama yang mereka buat untuk berjuang melihat cahaya matahari kembali karena sehari-hari mereka hidup dalam kesuraman dan kegelapan. Mungkin itu juga mengapa aku tertarik untuk bergabung dengan Light Seekers.
Kemudian kami berjalan melewati segerombolan anak-anak yang sedang seru bermain bola di tanah yang tandus dengan diterangi lampu neon. Beberapa orang menyapa kami. Kurasa orang-orang di sini ramah, bahkan lebih ramah daripada di Teoland. Itulah mengapa aku cukup menyukai orang-orang Downland dibandingkan dengan orang-orang Teoland yang individualis.
Alat komunikasi yang dipegang oleh Fleirye berbunyi. Tampak seseorang yang sudah agak tua dengan banyak uban di layar alat komunikasi itu.
“Ada serangan mendadak dari monster di koordinat 44,92. Kau, Reint, dan Legra segera menuju ke sana!”
Kami segera berlari ke koordinat tersebut dan menemukan monster Argol, sejenis monster laba-laba raksasa sedang menghancurkan banyak rumah. Aku menyiapkan pedang lamaku yang masih tetap tajam. Legra menyiapkan perisai dan pisaunya. Fleirye menyiapkan busurnya.
Legra memulai serangan pada induk Argol. Segera saja induk Argol dan beberapa anaknya mengerubungi Legra. Fleirye segera mengambil sebuah anak panah dan memasangnya pada busurnya. Setelah ditembakkan, anak panah itu tepat mengenai seekor anak Argol yang langsung mati di tempat.
Aku pun mulai menyerang juga. Pertama kami menyerang anak-anak Argol tersebut sementara Legra menahan si induk Argol. Aku dan Fleirye berhasil membunuhi semua anak Argol yang tersisa, sementara Legra masih menahan si induk.
“Kalau sudah selesai, cepat bantu aku!” teriak Legra yang mulai kesulitan menahan induk Argol tersebut. Fleirye segera memanahi induk Argol itu. Aku maju dan menebas salah satu kaki Argol tersebut sampai putus. Saat ia kehilangan keseimbangan, aku segera melancarkan empat pukulan beruntun secara cepat. Darah segar kehijauan dari Argol itu membanjiri tanah. Untuk penghabisan, aku melompat, bersalto di udara lalu menebas induk Argol itu sekuat tenaga sampai tubuhnya terbelah dua.
“Penghabisan yang bagus!” gerutu Legra yang kelelahan. Inilah tim kami, Legra selalu pasang badan untuk menahan serangan sementara aku dan Fleirye menghabisi lawan, kombinasi yang sempurna. Lalu kami pergi menghadap komandan kami.
“Penghabisan yang indah, Reint!” bisik Fleirye dengan menyentuh lenganku lembut, entah mengapa aku merasa aneh saat memandang Fleirye. Wajahnya yang cukup cantik dan rambut panjangnya yang hitam selalu mengingatkanku pada Reifa. Aku merasakan suatu sensasi yang aneh.
Kami berjalan menuju sebuah bangunan yang tidak kalah jeleknya dengan bangunan di Downland, hanya saja bangunan ini lebih besar. Inilah markas besar Light Seekers.
Komandan Light Seekers yang kami lihat di alat komunikasi bernama Mirvay, seorang pemanah dan penembak yang konon disebut legendaris. Ia memilih untuk memperjuangkan Downland daripada tetap di Teoland.
“Kerja yang bagus, tim 13!” puji Mirvay pada kami semua. “Hadiah akan kukirimkan nanti malam pada Fleirye.” Setelah itu kami langsung meninggalkan markas Light Seeker.
Tetapi tidak lama berselang alat komunikasi Fleirye berbunyi lagi. Tampaklah muka Mirvay yang tidak asing lagi. “Maaf, aku lupa mengatakan bahwa besok siang kalian terpaksa harus kutugaskan untuk pergi ke Laboratorium 312 untuk mencari suatu data penting yang hilang belum lama ini.”
“Bukankah tim 5 yang ditugaskan untuk itu, komandan Mirvay?” Legra memotong cepat.
Mirvay terdiam sesaat. “Ya, seharusnya begitu. Tetapi entah mengapa tidak ada seorang pun yang kembali dari Laboratorium 312 itu.” Saat itu juga perasaan tidak enak dan takut memenuhi kami. Tim 5 adalah tim yang baik dan hebat, kerjasama mereka tidak kalah hebat dari tim kami.
Fleirye mendekatiku, membiarkan Legra berjalan duluan di depan kami. “Perasaanku tidak enak, Reint!” bisiknya gemetar sambil memegang tanganku. Tangan mungilnya memang berkeringat.
“Aku pun begitu,” bisikku. Legra tampaknya melihat kami dengan sinis.
Karena letak asrama pria dan wanita pasukan Light Seeker berbeda, kami berpisah jalan dengan Fleirye. Ia melambai pada kami lalu masuk ke asrama. Aku dan Legra berjalan terus sampai ke asrama pria yang letaknya tidak jauh dari situ. Memang aku dan Legra sulit untuk mengobrol, tetapi sebenarnya ia teman yang baik dan dapat diandalkan.
Sebelum sampai di asrama pria, Legra menarikku ke suatu tempat yang sepi dan gelap. Lalu ia menjatuhkanku dengan kasar.
“Apa-apaan kau ini, Legra?” bentakku kesal sambil berdiri kembali.
Legra yang biasanya tampak selalu tenang membentakku lebih kencang lagi. “SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA, APA-APAAN KAU INI, REINT!” Lalu ia kembali tenang dengan nafas yang terengah-engah.
“Apanya?” tanyaku tidak mengerti.
Legra mendorong bahuku dengan kasar sampai aku terjatuh lagi. “Jangan pura-pura bodoh, Reint!” bentak Legra yang tampaknya sudah mendapat kontrol dirinya kembali.
Aku menggeleng. “Aku benar-benar tidak mengerti, Legra!” jawabku sambil berdiri lagi. Aku dapat melihat kemarahan yang amat sangat dalam mata Legra.
“Kau telah merebut sesuatu yang berharga dari padaku, Reint!” kata Legra dengan nada dinginnya.
Aku masih tidak mengerti, malah aku bertambah bingung. “Apakah ‘sesuatu’itu, Legra?”
Legra memunggungiku. Aku amat terkejut, Legra yang selalu tabah dan kuat, menangis?
“’Sesuatu’ itu adalah Fleirye,” jawab Legra. Aku terkejut sekali. “Ya, kau telah merebutnya daripadaku!” Legra menyiapkan pisaunya lalu segera menyerangku. Aku yang sangat kaget mengeluarkan pedangku dan menangkis semua serangannya. Setelah menyerang, Legra mundur beberapa langkah.”
“Kau orang dari Teoland mana tahu penderitaan kami! Setiap hari kami harus bertahan hidup dengan segala cara. Mengemis, mencuri, bahkan membunuh sudah pernah aku dan Fleirye lakukan dari kecil. Kami itu teman dari kecil. Kau tahu aku sangat menyukainya tetapi kau merebutnya!”
Lagi-lagi Legra menyerangku. Aku dapat menangkis serangannya, tetapi kali ini berbeda. Legra sungguh-sungguh ingin membunuhku? Tanyaku.
“Tetapi sekarang kau merebutnya!” ulang Legra sambil mundur. “Kau tahu, apa yang kami makan sehari-hari? Roti berjamur saja kami sudah bersyukur!” Lalu Legra menyerangku kembali. Kali ini aku hanya menghindarinya saja.
“Ya, Reint! Kami hidup dalam kegelapan setiap hari, setiap jam, setiap detik. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mengemis untuk sepotong roti saja. Itu yang aku dan Fleirye lakukan setiap hari, kau tahu?” Legra kembali menyerang. Serangannya kali ini tidak dapat kuhindari sepenuhnya. Lengan kananku tergores pisaunya. Legra tampak puas.
Legra membuang pisaunya, tampaknya ia ingin kami bertarung dengan tinju. Ia meninju telak pipiku sampai aku tersungkur di tanah yang dingin. Sekali lagi Legra tampak puas.
Aku bangkit lalu segera balas memukulnya. Ia pun jatuh tersungkur.
“Ya Legra, aku memang tidak tahu apapun tentang kau dan Fleirye!” bentakku emosi. “Terserah kau mau menganggapku apa, tetapi aku dan Fleirye hanya teman, kau tahu!”
Legra segera bangkit. “Kau bohong!” raungnya yang makin mirip dengan raungan Treant. “Aku tahu kau menyukainya dan dia menyukaimu, Reint! Dari cara kalian berbicara, memandang, bahkan bersikap!”
Kali ini Legra bangkit, tetapi ia tidak menyerangku lagi. Ia berbalik lalu berkata dengan dingin, “mulai saat ini kau bukan temanku lagi, Reint!”
Jujur saja, saat Legra mengatakan itu aku sangat terkejut. Selama kurang lebih sebulan aku berada di Downland ini, aku menganggap Legra teman terbaikku, tentu saja Fleirye juga. Dan kami juga bisa bekerja sama dengan baik.
“Baiklah kalau begitu, Legra!” jawabku dingin. “Aku pun tidak akan menganggap kau sebagai teman lagi!” Lalu kami berdua masuk ke asrama dan berpisah di depan kamar masing-masing.
“Legra sialan!” bisikku di kamarku sambil memegangi pipiku yang ia pukul. Cukup sakit juga. “Apa-apaan dia itu?”
Aku berbaring di tempat tidur. Mau tidak mau aku memikirkan arti kata-kata Legra. Aku mengingat-ingat saat aku bersama Fleirye. Aku tidak suka memikirkannya, tetapi tampaknya kata-kata Legra ada benarnya juga.
Apa-apaan aku ini? Aku kehilangan adikku dan Teoland, sekarang aku juga kehilangan teman terbaikku karena suatu masalah sepele? Renungku dalam keremangan kamar.
Perlahan-lahan aku merasakan bahwa aku pun menangis pelan. Semakin lama semakin menjadi-jadi. Aku kehilangan teman terbaikku! Renungku.

***

Minggu, 03 Agustus 2008

Light Seekers (Story 1, Part 1)

Teman2, ini gw nulis cerita ngga penting (Sebenernya penting juga seh, buat tugas BI wkt itu), tapi daripada gw simpen sendiri mending gw post aja d, biar meramaikan blog ini. Haha. Selamat membaca. Oh ya, Story 1 itu ada 3 Part. Story 2nya blom diketik (Ngga tau d mau dilanjutin ngga)
Anyway, enjoy the story n jgn lupa COMMENT POST TENTANG KRITIK ATAUPUN SARAN ATAUPUN APAPUN JUGA TENTANG CERITA INI.

Thx!



Di sekelilingku dapat kulihat tanah lapang. Aroma rumput yang hijau sangat tajam siang itu, kira-kira sejauh seratus meter dariku kulihat danau yang airnya sangat bening bagai kaca. Beberapa ekor rusa jantan sedang minum dari danau itu. Burung-burung hinggap di pohon yang penuh dengan apel ranum. Aku dan seorang anak kecil berlomba-lomba berlari ke danau tersebut.
“Kakak, tunggu aku!” seru anak kecil itu. Anak kecil itu tidak sanggup untuk menyusulku, nafasnya terengah-engah. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang masih imut.
“Jangan lambat begitu, Reifa!” kataku. Aku melihat pandangan memohon dari anak kecil yang bernama Reifa itu.
Reifa masih terengah-engah. “Tetapi kakak janji akan mengajakku bermain di tepi danau kan?” timpal Reifa dengan nada serak. Matanya berkaca-kaca.
Aku memandangnya, tampaknya ia hampir menangis. Aku paling tidak bisa melihat anak-anak menangis. “Baiklah, ayo sekarang kita main.”
Reifa pun berteriak girang. Untuk kira-kira setengah jam kami berdua bermain di bawah terik matahari. Setelah itu kami beristirahat. Aku berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang sementara Reifa bermain air di danau. Aku hanya mengawasinya saja.
Sekarang kami berdua adalah anak yatim piatu. Orang tua kami meninggal beberapa tahun yang lalu. Reifa adalah adikku satu-satunya. Memang umur kami beda sekitar enam tahun.
Kami tinggal di sebuah dunia yang bernama Teoland, Negeri Tuhan, ya karena pemandangannya yang sangat elok bagaikan Taman Eden. Orang-orang menyebut tempat ini Taman Eden kedua.
Tiba-tiba ada ledakan kira-kira berjarak tiga puluh kilometer dari tempat kami itu. Aku dan Reifa sangat terkejut. Asap hitam segera mengepul dari tempat ledakan itu. Aku merasakan tanah bergetar cukup hebat. Cukup keras untuk membuat semua binatang berlari-lari ketakutan.
Pasukan keparat itu lagi rupanya! Umpatku.
“Reifa, cepat kemari!” Teriakku. Kemudian aku dan Reifa berlari menjauhi danau. Kami terus berlari sampai ke daerah perkotaan yang tidak jauh dari tempat itu. Semua orang di sana juga menjadi sangat ketakutan.
“Cepat, Light Seekers kembali merusuh tempat ini, selamatkan diri kalian!” teriak salah seorang penjaga toko yang botak di tengah jalan. Mendengar itu orang-orang pun segera menjadi lebih ketakutan dari sebelumnya. Mereka segera masuk ke rumah dan toko mereka masing-masing dan mengunci pintu rapat-rapat.
Light Seekers adalah pasukan dari tempat yang kami sebut dengan Downland, negeri bawah. Jadi letak Teoland berada tepat di atas Downland. Aku tidak terlalu tahu tentang Downland, tetapi kata orang tempat itu sangat menyeramkan. Berbeda dengan mereka, aku dan Reifa adalah keturunan elit dari Teoland, sangat berbeda dengan orang-orang Downland itu. Dan Light Seekers atau pasukan yang meyebut diri mereka Pencari Cahaya adalah pasukan gabungan dari Downland yang sering menginvasi tempat ini. Untunglah pasukan kami, Teo’s Guard selalu melindungi Teoland ini dengan baik. Aku pun adalah salah satu tentara Teo’s Guard.
“Kakak, aku takut….,” Bisik Reifa sambil memegangi tanganku erat-erat.
Tiba-tiba alat komunikasiku berbunyi. Aku segera menjawab dan tampaklah wajah seseorang berambut putih dengan dua goresan di wajahnya. “Unit Teo’s Knight segera berkumpul di markas, segera!” Lalu orang itu menghentikan komunikasi.
Aku memandang Reifa yang masih ketakutan. “Reifa, kakak harus pergi sekarang,” Bisikku. Reifa hendak protes tetapi aku segera menghentikannya.
“Reifa, kau tunggu di tempat yang aman,” kataku segera.
“Tetapi aku juga unit Teo’s Archer,” balas Reifa sambil mengeluarkan busur putihnya yang terbuat dari logam ringan.
“Belum sekarang Reifa,” balasku lagi. Sekali lagi Reifa hendak protes tetapi aku segera menghentikannya. “Sekarang berlindunglah di rumah. Kunci pintunya rapat-rapat dan jangan biarkan orang lain masuk, selain Kakak. Mengerti?”
Reifa dengan pasrah mengangguk. Sebutir air mata yang bening mengalir melalui pipi kecilnya. Aku menyekanya lalu memegang kepalanya dengan lembut. “Kakak akan kembali, Reifa!” bisikku lembut. Reifa hanya mengangguk lalu segera berlari di antara kerumunan orang-orang yang menyelamatkan diri.
Aku segera berlari melawan arus. Aku membuka jubahku yang berwarna hitam, seakan memamerkan baju perang berwarna merah dengan gambar pedang dengan cahaya putih. “Minggir!” Teriakku pada orang-orang yang menghalangi jalanku.
Sekitar lima menit kemudian aku sampai dengan tempat kecil yang kami sebut markas. Guhter, komandan kami yang tadi berbicara denganku melalui alat komunikasi tampak marah.
“Kau terlambat!” Aku hanya menganguk saja tanda minta maaf. Aku duduk di tempat duduk unit Teo’s Knight.
“Light Seekers kembali merusuh di koordinat 80,67. Kalian cepat bergerak. Unit Teo’s Blocker dan Teo’s Knight memimpin. Buka jalan untuk unit Teo’s Archer dan Teo’s Gunner. Laksanakan sekarang!” kata Guhter dengan keras.
Aku dan teman-temanku serta unit Teo’s Blocker segera berlari menuju koordinat 80,67 itu. Aku dan unit Teo’s Knight mengeluarkan pedang kami yang simetris, panjang, dan tajam. Sementara Teo’s Blocker mengeluarkan perisai mereka yang besar.
Saat kami sampai di 80,67, kami melihat para Light Seekers sedang menjarahi pertokoan, tetapi tidak ada mayat yang bergelimpangan. Tampang mereka yang rakus dan barbar membuatku jijik. Tampaknya mereka segera menyadari kehadiran kami dan segera berteriak satu sama lain.
“Teo’s Guard datang!” teriak seseorang dari Light Seekers.
Mendengar itu, para Light Seekers segera mengeluarkan senjata mereka.
“Semua, serbu!” teriak Guhter. Kami pun maju menyerbu mereka. Aku segera menusuk salah seorang Light Seeker di depanku, dan ia segera ambruk.
“Terus desak mereka sampai perbatasan Downland!” teriak Guhter yang sedang bertarung dengan tiga Light Seeker dengan pedangnya yang sangat besar.
Para Light Seeker segera menahan serangan kami. Tetapi unit Teo’s Archer dan Teo’s Gunner kami sudah menembaki mereka dari belakang. Dan mereka ambruk satu per satu. Akhirnya para Light Seekers itu pun mulai mundur sampai perbatasan Downland.
Sampai perbatasan Downland yang gelap dan lembab pun kami terus mendorong mereka. Sampai sekarang sudah tiga Light Seekers yang kutusuk dengan pedangku ini. Perang ini berlanjut sampai terdengar raungan yang sangat keras dan memekakan telinga.
Kami semua tediam. Untuk sejenak kami berhenti berperang. Sekali lagi raungan itu terdengar. Tanah berguncang hebat, tampaknya mahluk itu mulai mendekat dari perbatasan Downland.
“Sial, itu Treant!” bisikku gugup. Treant adalah mahluk besar berlendir yang berwarna keunguan. Seluruh tubuh mereka dipenuhi otot-otot ungu yang hampir mencuat ke luar. Kuku mereka yang runcing dan gigi mereka yang tajam dan beracun menambah ketakutan musuh mereka. Dan mereka sangat menyukai darah.
“Semua mundur!” teriak Guhter yang semula terdiam. Kami para Teo’s Guard pun berlari ketakuan. Treant ini sangatlah menyeramkan.
Sekali lagi Treant itu meraung, lalu monster ini mulai menyerang para Light Seekers. Treant mencakari seluruh pasukan mereka. Para Light Seekers tidak berdaya melawan seekor Treant.
Saat aku memandang ke belakang, seorang pasukan Light Seekers tampaknya sedang terduduk di tanah, entah karena ketakutan atau karena diserang oleh Treant. Kakiku ingin berlari tetapi entah mengapa ada sesuatu yang menahanku untuk tetap berada di tempat itu.
Saat Treant hendak mencakar orang itu, ada seorang Light Seekers yang dengan gesit menangkis serangan Treant. Ia membawa perisai yang besar, kira-kira seukuran dengan perisai Teo’s Blocker.
“Fleirye, kau tidak apa-apa?” tanya orang yang membawa perisai itu. Ternyata orang yang hampir diserang itu adalah seorang gadis yang membawa panah menyala. Ia tidak dapat berkata apa pun, mungkin karena ketakutan.
Treant menyerang lagi, tetapi lagi-lagi lelaki itu menangkis serangan Treant. Treant tampak geram, dan segera saja monster menyeramkan itu menyerang dengan agresif. Orang itu tampaknya mulai kesulitan menangkis serangan beruntun Treant.
Sepersekian detik aku tidak sadarkan diri, tetapi aku ingat betul aku melancarkan serangan terbaikku pada Treant itu. Selama sepersekian detik Treant itu menjadi lumpuh dan kesakitan, lalu para Light Seekers mengeroyoknya dan akhirnya berhasil membunuh Treant. Aku merasakan darah segar mengalir dari lengan kiriku. Tampaknya cakar beracun Treant berhasil mengenaiku. Pandanganku pun mulai kabur. Aku terjatuh.
“Mengapa ia menolong kita?” tanya gadis itu. Pemuda di sebelahnya hanya menggeleng saja.
Saat itu juga aku kehilangan seluruh kesadaranku. Pandanganku menjadi gelap.
Akankah aku mati di sini? Reifa, maafkan aku! Pikirku untuk terakhir kalinya.

***

Visko 5!

Wah, sori neh postingan telat. Uda rada basi seh, tapi gapapa. Haha!
Jadi ceritanya tuh Visko 5 diadain di D'Cost pada tgl 25 Juli 2008 dalam rangka ngerayain ultah Jay! Kita makan dibayarin gitu d. Hahaha.

Tapi sebelumnya kan sekolah pulang jam 9.15, wah gw ngga menyia-nyiakan kesempatan itu. Habis pulang langsung nonton ke SMS.
Nah, kita keluar jam 9.15.
Lalu dengan mobilnya Adit yg super sempit, kita (Gw, Adit, Yudha, Devin, n Arvin) berangkat dulu d ke rumah Devin di VMM. Ganti baju dulu d situ, ktemu ama neneknya.
Lalu kita tancep ke SMS.
Di SMS kita maen Time Zone dulu d. Seorang nyumbang 50rb, lumayan d. Maen basket ber-5, rusuh bgt!
Abis itu kita beli tiket Dark Knight.
Eh, gw ktemu ama sepupu gw yg lg libur (baru mau kuliah soalnya). Lg mau nonton juga dia.
Abis itu kita pilih makan di Solaria. Krn mahal2, kita berunding n sepakat untuk beli porsi gede aja, lalu dibagi2. Dan terjadilah pembagian yg sangat adil. Semuanya sama porsinya.
Tapi makannya lumayan barbar seh! Hwahwahwa!

Abis itu kita ke Gramed dulu n ke Ranch Market dulu, beli snack ama minuman buat diselundupin. Hehe! Asli, jelek banget aktingnya pas nyelundupin makanan. Gw ama Arvin nutupin yg bawa makanan. (Secara gw tinggi, Arvin lebar) LOL!
Baru d nonton Dark Knight selama kurang lebih 2,5 jam. Parah, kebelet bgt!
Akhir2 filmnya si Yudha bisik ke gw ama Adit, "Habis ini saya mesti ke toilet neh!"
Alhasil setelah film selesai kita lari ke WC d.

Selesai nonton kita ktemu Atik ama Tommy. Mereka nonton juga tapi ngga bareng.
Habis itu kita tungguin d mereka ber2 makan di Downtown.
Tadinya si Tommy uda bawa2 laptop gw d, mau pake Hotspotnya.
Eh, kita semua ngga ngudeng settingan laptopnya. Jadi cuma liat2 foto aja d. Hahaha!

Habis itu balik dari SMS, gw, Yudha, ama Adit tancep ke kos Yudha.
Gw ama Yudha mandi gantian. Wuih, tuh kita mandi cpet bgt. Tp sendiri2, bkn berdua sekaligus. Haha. Si Adit ngga mandi pula, jorok bgt tuh anak! Wkwkwkwk!

Habis itu baru d kita tancep ke D'Cost!
Yg dateng lumayan bnyk. Ampe Monic, Tan2, ama Babonk juga dtng loh!
Di sana kita sebelum restonya dibuka, ngobrol2 dulu gitu.
Habis itu baru d makan. Wah, kita berempat, Fantastic 4 rada2 aneh makannya. Gw seh biasa aja, tapi yg 3 tmen gw yg fantastis yg laennya punya cara makan sendiri gitu.
Pertama makanannya dijatah dulu, baru d langsung diserbu. Haha.
Habis selesai makan, Jay potong kue, habis itu kita makan kue lg d.
Eh c Yudha geblek makan hiasan kue, dikiranya enak kale. Hihi!

Habis selesai makan, kita keluar D'Cost, kita nonton live gt d.
Cath nyanyi loh! Hahaha.
Pokoknya seru d. Maknyuss!

Habis itu gw pulang d, uda malem seh.
Ampe rumah tepar2 d. Tapi seneng bgt!
Jadi pengen lagi.
Haha, sekian.
Ini gw lampirkan foto Fantastic 4 dari XI IPA 3. Tp skrg Yudha uda berganti jadi Charlie's Angel (Yudha, Devin, Arvin) Sedih d. Hahha


Sekian dulu!